Manajemen Mutu Perguruan Tinggi
(Konsep CRAM VS Falsafah Budaya Bugis-Makassar)
Oleh : DR. Imran Kamaruddin, SS.MM.M.Ikom
Konsep CRAM (Culture, Relevance, Accountability, dan Mission) merupakan amanah dalam Peraturan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor 14 Tahun 2023 tentang Kebijakan Penyusunan Instrumen Akreditasi dan merupakan pendekatan strategis dalam manajemen mutu perguruan tinggi yang bertujuan untuk memastikan keberlanjutan kualitas pendidikan tinggi di tengah tantangan global.
Culture atau budaya menjadi fondasi utama, di mana perguruan tinggi perlu menciptakan budaya organisasi yang mendukung inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan. Budaya ini mendorong semua elemen institusi, baik dosen, mahasiswa, maupun staf, untuk mengutamakan kualitas dalam setiap aktivitas akademik dan administratif. Relevance atau relevansi menekankan pentingnya kesesuaian antara program pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat dengan kebutuhan zaman dan tantangan lokal maupun global.
Perguruan tinggi harus mampu menghasilkan lulusan dan penelitian yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat.
Accountability atau akuntabilitas menegaskan bahwa perguruan tinggi harus bertanggung jawab kepada para pemangku kepentingan, termasuk mahasiswa, masyarakat, pemerintah, dan dunia industri. Transparansi dalam pelaporan kinerja, pengelolaan anggaran, dan hasil akademik menjadi bagian penting dari akuntabilitas ini.
Sementara itu, Mission atau misi menjadi arah yang memandu perguruan tinggi untuk mencapai visi jangka panjangnya. Misi yang jelas, konsisten, dan terintegrasi ke dalam seluruh aktivitas organisasi memastikan perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada pencapaian target akademik, tetapi juga kontribusi terhadap pembangunan bangsa.
Dengan mengintegrasikan keempat elemen CRAM ini, perguruan tinggi dapat menciptakan sistem manajemen mutu yang holistik, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi seluruh pemangku kepentingan.
Konsep ini memiliki keselarasan yang mendalam dengan falsafah budaya Bugis-Makassar, yang dikenal kaya akan nilai-nilai etika dan kearifan lokal. Culture, sebagai elemen pertama, dapat dihubungkan dengan nilai Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge, yang mencerminkan penghormatan antarindividu, penghargaan terhadap keunggulan, dan saling mengingatkan untuk kebaikan.
Dalam konteks perguruan tinggi, budaya ini menjadi landasan untuk menciptakan lingkungan akademik yang menghargai keberagaman, mendorong kerja sama, dan menjunjung tinggi integritas.
Relevance atau relevansi memiliki hubungan dengan prinsip Resopa Temmangingngi Namalomo Naletei Pammase Dewata (hanya dengan kerja keras seseorang akan mendapatkan rahmat Tuhan). Dalam konsep ini harus memastikan program pendidikannya relevan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja melalui upaya yang serius dan berorientasi pada kemajuan bersama.
Pendidikan yang relevan ini mencerminkan komitmen perguruan tinggi untuk mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan global tanpa melupakan akar budaya lokal.
Accountability sejalan dengan nilai Amaccang (kebijaksanaan atau kecerdasan) dan Awaraningeng (kejujuran atau tanggung jawab). Dalam budaya Bugis-Makassar, setiap tindakan harus dapat dipertanggungjawabkan, baik kepada manusia maupun kepada Tuhan. Perguruan tinggi harus transparan dalam pengelolaan sumber daya, memberikan laporan yang jujur kepada pemangku kepentingan, dan berkomitmen terhadap hasil yang berkualitas.
Terakhir, Mission terkait erat dengan konsep Panngadereng, yang mencakup aturan dan nilai-nilai universal yang menjadi pedoman hidup masyarakat Bugis-Makassar. Perguruan tinggi harus memiliki misi yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan jati diri bangsa.
Dengan mengintegrasikan konsep CRAM dan falsafah budaya Bugis-Makassar, perguruan tinggi dapat mengembangkan manajemen mutu yang tidak hanya memenuhi standar global, tetapi juga menghormati dan melestarikan nilai-nilai lokal sebagai kekuatan utama dalam menghadapi tantangan masa depan.



