TINELO.ID, MARISA – Kawasan pertambangan Desa Bulangita, Kecamatan Marisa, mendadak mencekam. Sesosok jasad pemuda ditemukan tertimbun di kedalaman tanah lilin yang labil pada Kamis (05/03/2026) kemarin.
Kematian Mahmud Lihawa (18) kini menyisakan teka-teki besar setelah saksi kunci yang melaporkan kejadian justru “hilang ditelan bumi” sesaat setelah jasad ditemukan.
Saksi kunci, Daeng Fira, menceritakan detik-detik mencekam saat dirinya diminta bantuan oleh pria bernama Welly dan dua rekannya asal Paguyaman. Tanpa pikir panjang, meski sedang menjalankan ibadah puasa, Daeng Fira langsung menuju lokasi di lahan milik Pak Anto.
“Mereka datang mendesak, katanya ada yang tertimbun. Saya langsung gali pakai tangan kosong dan alat seadanya. Tanah itu setinggi dada saya,” ungkap Daeng Fira dengan wajah lelah.
Namun, ada keganjilan yang dirasakan saksi. Saat ia mulai berjibaku mengeluarkan tubuh korban dari jepitan tanah dan bebatuan, Welly dan rekannya berinisial Nono justru menyelinap pergi meninggalkan lokasi.
Berdasarkan penelusuran di lapangan, korban Mahmud Lihawa merupakan warga Dusun Banjar II, Desa Bumbulan. Ironisnya, korban diketahui baru tiga hari bekerja di lokasi tersebut di bawah koordinasi pria bernama Daeng Ucok.
Lokasi tempat Mahmud meregang nyawa diklaim sebagai tambang yang sudah lama tidak beroperasi, namun faktanya masih terdapat aktivitas pekerja di sana.
Pihak kepolisian kini bergerak cepat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP). Fokus utama penyelidikan saat ini adalah mengejar Welly dan Nono yang melarikan diri sebelum petugas tiba.
“Aneh, mereka yang tunjukkan titik koordinatnya, tapi mereka juga yang pertama kabur,” tambah Daeng Fira saat memberikan keterangan resmi kepada penyidik.
Hingga saat ini, jenazah korban telah dievakuasi untuk proses visum.
Pihak berwenang tengah mendalami apakah insiden ini murni kecelakaan kerja akibat kontur tanah yang licin (tanah lilin) atau ada unsur kelalaian prosedur keselamatan kerja (K3) dari pihak pengelola tambang.



