“Suara adalah Senjata: Alternatif Dialog Penolakan PT. Gag Nikel di Raja Ampat” ujarnya.
TINELO.ID, PAPUA BARAT – Di tanah yang dijanjikan sebagai surga terakhir dunia, Raja Ampat, Papua Barat, sebuah ancaman nyata datang bukan dari alam liar, tetapi dari kebijakan yang membungkam dan tambang yang menggerus. PT. Gag Nikel, anak usaha dari PT. Antam Tbk dan bagian dari MIND ID, kembali membuka luka lama di benak masyarakat adat raja Ampat. Mereka yang dulu pernah menolak, kini kembali dipaksa berhadapan dengan rencana eksploitasi atas nama pembangunan dan investasi.
Namun masyarakat tidak tinggal diam. Di tengah keterbatasan akses dan ketimpangan kekuasaan, mereka mengangkat senjata yang paling ampuh dan manusiawi: suara. Suara dalam bentuk lagu, puisi, orasi, mural, hingga petisi. Suara sebagai bentuk ekspresi, sebagai cara mempertahankan ruang hidup, sebagai penegasan bahwa tanah bukan sekadar aset, tetapi identitas, warisan, dan ibu kehidupan.
Penolakan terhadap PT. Gag Nikel adalah perlawanan terhadap model pembangunan yang hanya menghitung untung-rugi tanpa menghargai relasi ekologis dan budaya. Tanah Papua bukan ruang kosong. Ia dihuni oleh sejarah, adat, dan ekosistem yang saling terhubung. Ketika tambang masuk, bukan hanya pohon yang tumbang, tapi juga bahasa, ritus, dan cara hidup yang perlahan memudar.
Alternatif dialog yang dipilih oleh masyarakat bukan duduk dalam forum formal yang penuh retorika. Mereka memilih berdiri di tepi pantai, menyanyikan lagu-lagu tentang laut yang dicintai. Mereka menuliskan puisi tentang gunung yang sebentar lagi mungkin hanya tinggal nama. Mereka melukis mural di tembok-tembok kampung agar anak-anak tahu bahwa mereka pernah melawan.
Inilah demokrasi dari pinggiran. Bukan sekadar hak untuk berbicara, tapi keberanian untuk menyampaikan kebenaran meski berisiko dikriminalisasi. Suara-suara itu bukan hanya penolakan, tapi juga tawaran bahwa ada cara lain membangun tanpa merusak, menjaga tanpa mengeksploitasi.
Negara seharusnya menjadi pelindung warga, bukan makelar tambang. Pemerintah pusat maupun daerah mesti mendengar suara-suara ini, bukan hanya laporan dari meja investor. Dan kita yang jauh dari masyarakat adat raja Ampat , harus turut menggemakan suara mereka. Karena suara yang terus diperdengarkan bisa menjadi gema yang mengguncang kuasa.
Selamatkan Tanah Air dan Bebaskan Ekologi keindahan alam Raja Ampat Papua Barat.



